Oleh
Anisah Anom, SKH
INTISARI
Kejadian rendahnya kadar progesteron susu di hari ke 5 pada sapi perah telah dilaporkan dan efisiensi terapi telah ditaksirkan. Kejadian rendahnya progesteron susu (secara empiris < 3ng/mL) pada sapi yang kawin berulang adalah 34% dibandingkan dengan 11,4% pada sapi yang diinseminasi pertama kali. Terapi dengan intravaginal progesterone device selama 7 hari mulai dari hari ke 5 atau 6 tidak memperbaiki tingkat kebuntingan. Terapi dengan 1500 iu human chorionic gonadotropin (hCG) pada hari ke 5 memberikan kenaikan tingkat kebuntingan yang bergantung pada konsentrasi progesteron inisial dan hasilnya signifikan (p<0.05) pada multipara tetapi tidak pada sapi primipara. Sedangkan kejadian progesteron rendah di hari ke 5 banyak terjadi pada sapi yang kawin berulang. Pada percobaan ini, sapi merespon terhadap treatment hCG, meskipun hanya pada sapi yang multipara dan tidak pada sapi primipara.
kata kunci: Progesteron, hCG, Kawin berulang, Sapi perah
PENDAHULUAN
Fertilitas sapi perah pada industri susu di UK telah mengalami kemunduran selama lebih dari 20 tahun yang lalu. Angka kelahiran (Calving rate) pada inseminasi/kawin pertama telah menurun dari 60% menjadi 40%, penurunan berkisar 1% setiap tahun, sedangkan kejadian gangguan reproduksi telah meningkat pesat (Royal et al., 2000). Kondisi kebuntingan pada sapi, menuntut embrio berkembang dengan baik untuk memproduksi sejumlah signal anti luteolytic interferon (IFN)-ד yang cukup (Mann et al., 1999: Thatcher et al., 1995). Progesteron yang rendah berhubungan dengan perkembangan embrio yang buruk (Walton et al., 1990; Mann and Laming, 2001) sedangkan suplementasi progesteron menunjukkan peningkatan perkembangan embrionik (Garrett et al., 1998) dan (Mann et al., 2006). Jadwal pemberian suplementasi progesteron sangatlah penting. Sebagai contoh, Mann et al. (2006) menyatakan bahwa suplementasi dari hari ke 5 hingga hari ke 9 mengakibatkan peningkatan perkembangan embrio dan produksi IFN-ד, sedangkan suplementasi yang diberikan pada hari berikutnya (pada hari ke 12 - 16) tidak menunjukkan hasil yang sama. Pada meta-analisis dari penelitian suplementasi progesteron, Mann dan Lamming (1999) menyatakan bahwa suplementasi pada sapi sebelum hari ke 6 mengakibatkan kenaikan tingkat kebuntingan, akan tetapi tidak pada hari berikutnya. Alternatif lain untuk suplementasi progesteron adalah dengan melibatkan peningkatan sekresi endogenus. Salah satunya dengan memberi human chorionic gonadotropin (hCG) yang diketahui dapat meningkatkan konsentrasi progesteron (Thatcher et al., 2001; Hicking et al., 2002), dan menaikkan tingkat kebuntingan ketika diberikan pada hari ke 5 (Thatcher et al., 2001)
MATERI DAN METODE
Hewan Percobaan
Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi perah Friesian Holstein (FH) dari peternakan-peternakan komersial. Inseminasi dilakukan pada saat siklus estrus alami, dengan dideteksi oleh gembala di setiap peternakan.
Progesteron Postovulatorik yang Rendah pada Sapi-Sapi yang Kawin Berulang
Data progesteron susu diketahui dari penelitian sebelumnya, pada sapi-sapi di East Midland Inggris. Sampel-sampel susu dikoleksi pada hari ke 5 pasca inseminasi. Sampel-sampel susu dikolesi ke dalam cawan yang berisi tablet pengawet (Lactab) dan dilakukan analisis progesteron di Universitas Nottingham. Data progesteron susu hari ke 5 ini dikoleksi dari 70 sampel sapi yang mengalami kawin berulang dan 70 sampel dari sapi yang normal.
Suplementasi Progesteron
Penelitian dilakukan pada 20 peternakan susu komersial di baratdaya Inggris. Setiap peternakan menyediakan 40 ekor sapi yang mengalami kawin berulang (sapi yang telah dinseminasi ke tiga atau lebih). Sebanyak 20 ekor sapi diberikan terapi untuk meningkatkan konsentrasi progesteron dan 20 ekor sapi lainya sebagai kontrol.
Kemudian, untuk mengetahui hasil dari perlakuan tersebut terhadap saluran reproduksi sapi, dilakukan pemeriksaan dengan ultrasound scanning atau palpasi perrektal. Waktu dalam mendiagnosa kebuntingan tidak ditentukan, ultrasound scanning dapat mendiagnosa kebuntingan yang lebih awal dari daripada palpasi perrektal, sehingga dapat mengetahui tingkat kebuntingan dan kematian embrio sedini mungkin.
Percobaan hCG
Pada percobaan ini, dilakukan pada 10 peternakan. Sapi-sapi diterapi pada hari ke 5 pasca inseminasi dengan menginjeksikan 1500 IU hCG (% mL Chorulon, Intervet) untuk meningkatkan sekresi. Sebelumnya, sebuah sampel susu dikoleksi dan diperiksa terlebih dahulu, untuk menetapkan konsentrasi progesteron susu.
Percobaan CIDR
Pada percobaan ini, dilakukan pada 10 peternakan. Sapi-sapi mendapat suplementasi progesteron eksogenus dengan menggunakan intra-vaginal progesterone releasing device (Eazi-Breed CIDR, Inter Ag), yang mengandung 1.9 g progesteron. CIDR dimasukkan intravaginal pada hari ke 5 atau 6 dan diambil kembali 7 hari berikutnya. Dalam percobaan ini, sampel susu tidak dikoleksi karena kemungkinan besar kontaminasi silang antara progesteron susu dengan progesteron dari pengaturan CIDRs.
Milk Progessterone Assay
Konsentrasi progesteron susu ditetapkan dengan ELISA (Ridgeway Science Ltd) dengan variasi koefisien inter- dan intra-assay berturut-turut 6.1% dan 8.7%, dan batas deteksi 1ng/mL. Mengkoleksi sampel susu baik pada awal atau akhir pemerahan adalah penting. Konsentrasi progesteron susu meningkat selama tahap awal pemerahan hingga mencapai kestabilan (Scholey et al., 2002). Konsentrasi pada awal pemerahan adalah 2.82ng/mL dan konsentrasi pada akhir pemerahan adalah 3.49ng/mL. Rata-rata konsentrasi pada semua pemerahan adalah 3.53 ng/mL. Faktor koreksi adalah 1.25 (3.53 : 2,82) untuk mengkoreksi jumlah semua pemerahan.
Analisis Statistik
Pada penelitian ini, jumlah 3ng/mL dianggap menjadi konsentrasi progesteron yang 'cukup'. Ini berdasarkan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa penurunan tingkat kebuntingan terjadi ketika konsentrasi progesteron susu hari ke 5 rendah (Starbuck et al., 2001). Sapi-sapi yang mengalami kawin berulang ditetapkan sebagai hewan yang paling sedikit telah mengalami 2 kali kegagalan inseminasi, sedangkan sapi-sapi yang normal adalah sapi-sapi pada inseminasi pertama. Data tabulasi dibandingkan dengan menggunakan analisis chi-squared, dengan koreksi Yate's menggunakan tabel 2 x 2. Serta Student's t-test digunakan untuk membandingkan konsentrasi progesteron susu pada sapi normal dan sapi yang kawin berulang.
HASIL
Konsentrasi Progesteron Susu pada Sapi Kawin Berulang
Hasil analisis Universitas Nottingham menunjukkan, terdapat perbedaan yang signifikan (P < 0.01) antara jumlah sapi kawin berulang yang konsentrasi progesteronnya < 3ng/mL pada hari ke 5, dengan sapi yang normal. Jumlah sapi yang kawin berulang adalah 34.3% (24/70) sedangkan sapi normal 11.4% (8/70).
Pada sapi yang dilakukan percobaan hCG, dimana sampel susu hari ke 5 dikoleksi; distribusi konsentrasi progesteron susu ditunjukkan gambar 1. Jumlah sapi dengan konsentrasi progesteron susu hari ke 5 sebesar 6 ng/mL adalah 13,2% sedangkan sapi yang bunting sebesar 4.8%.
Efek Terapi CIDR
Tidak ada perbedaan yang signifikan antara tingkat kebuntingan sapi yang diterapi CIDR dengan sapi kontrol. Sapi yang diterapi CIDR adalah 36.6% dan sapi kontrol adalah 38.3%. Selain itu, tidak ada perbedaan antara jumlah sapi yang diterapi pada hari ke 5 (35.9%) dan hari ke 6 (37.5%).
Efek terapi hCG
Secara numerik, tingkat kebuntingan sapi yang diterapi hCG (45.2%) lebih tinggi daripada sapi kontrol (41.3%). Namun, perbedaan ini tidaklah signifikan.
Bagaimanapun, ada peningkatan yang signifikan (P < 0.05) pada tingkat kebuntingan hewan multipara yang diterapi hCG, tetapi tidak pada hewan primipara. (n = 86 kontrol dan n = 92 sapi perlakuan).
Pada percobaan ini, sampel susu segera dikoleksi sebelumnya untuk memberikan efek terapi pada dasar konsentrasi progesteron (gambar 3). Sapi dengan konsentrasi progesteron susu yang sangat rendah (4 ng/mL) menunjukkan respon pada terapi. Sedangkan, pada sapi dengan level progesteron antara 2 - 4 ng/mL, memperlihatkan respon yang lebih besar. Tingkat kebuntingan meningkat dari 41.6% pada sapi kontrol (n = 77) menjadi 53.8% pada sapi perlakuan (n = 80).
Selain itu, pada kelompok sapi dengan level progesteron antara 2 - 4 ng/mL, kenaikan tingkat kebuntingan yang signifikan terlihat pada hewan yang multipara (gambar 4).
PEMBAHASAN
Pada penelitian ini, kami telah menunjukkan peningkatan kejadian rendahnya konsentrasi progesteron susu di hari ke 5 pada sapi yang kawin berulang. Kejadian sapi yang kawin berulang dari data penelitian sebelumnya yang disusun pada akhir 1990-an (34.3%) mirip dengan yang telah teramati pada percobaan di lapangan (33.6%). Demikian hal tersebut terlihat bahwa pada sapi yang kawin berulang adalah kelompok terapi yang patut untuk terapi progesteron remedial. Kami tidak menemukan keuntungan dari terapi dengan intravaginal progesteron realising device. Pada percobaan ini, kami menyeleksi 2 hari dari pemasangan CIDR untuk menyesuaikan terapi pada manajemen peternakan-peternakan agar menjadi lebih mudah. Hasilnya, tidak ada perbedaan antara 2 hari terapi tersebut. Lebih tepat lagi, kurang adanya efek positif dari terapi. Hasil ini mengecewakan, sama seperti penelitian sebelumnya yang melakukan terapi dengan progesteron (Dawson, 1954; Sreenan dan Diskin, 1983; Diskin dan Sreenan, 1986; Robinson et al., 1989; Waltpn et al., 1990; Macmillan et al., 1991). Bagaimanapun juga, tidak semua penelitian menunjukkan perbaikan tingkat kebuntingan (Stevenson dan Mee, 1991; Van Cleef et al., 1991; Villarroel et al., 2004). Alasan untuk perbedaan-perbedaan ini masih tidak jelas.. Mengendalikan terapi progesteron dalam periode yang lebih panjang mungkin dapat menguntungkan, seperti yang dinyatakan Witbank et al. (1956), terapi pada sapi yang kawin berulang dengan progesteron hingga 34 hari setelah kawin telah menunjukkan peningkatan angka konsepsi. Bagaimanapun, kami ingin menghindari terapi yang terlalu luas sebagaimana kami tidak ingin adanya resiko luteolisis pada hewan-hewan tersebut dimana kebuntingan akan menjadi gagal, dan juga tertundanya kesempatan untuk menginseminasi sapi kembali.
Ketika tidak ada efek signifikan pada tingkat kebuntingan sapi yang terapi dengan hCG, terdapat efek signifikan pada tingkat kebuntingan multipara dan tidak pada primipara. Penelitian telah menyatakan adanya perbedaan dalam interaksi antara metabolisme dan fertilitas antara hewan primipara dan multipara berhubungan dengan perbedaan kebutuhan pertumbuhan mereka (Wathes et al., 2007). Pemasukan kebutuhan energi spesifik pada awal kebuntingan yang rendah, mungkin berpengaruh. Namun, mekanisme yang tepat mendasari respon tersebut saat ini adalah tidak jelas, observasi pada respon yang berbeda pada hewan multipara dan primipara tak terduga secara keseluruhannya.
Respon terhadap hCG berhubungan dengan konsentrasi progesteron susu inisial. Pada sapi yang konsentrasi progesteronnya sangat rendah atau tinggi tidak memperlihatkan repon yang nyata. Konsentrasi yang sangat rendah pada saat itu dapat mengindikasikan kegagalan ovulasi, waktu inseminasi yang tidak tepat atau progesteron endogenus tidak mencukupi untuk mendukung kehidupan awal embrio. Pada situasi ini, tujuan untuk mempertahankan kebuntingan terbatas. Kebalikannya, sapi dengan konsentrasi progesteron hari ke 5 yang tinggi mungkin telah memiliki progesteron yang cukup untuk pertumbuhan embrio dan sinyal kebuntingan pada sapi (Mann et al., 1999).
Area respon optimum pada sapi yang diberi hCG adalah antara 2 - 4 ng/mL dan pada target sapi yang kawin berulang tidak terlihat peningkatan keberhasilan suplementasi.. Bagaimanapun, tidak ada sistem patokan yang layak saat ini dan waktu serta percobaan tersebut menjadi pertimbangan penting sebagai percobaan yang cukup cepat dan kuat yang pernah ada.