Peluang-peluang dalam meningkatkan kesuburan betina pada ternak melalui seleksi genetik telah diteliti. Saat ini sapi-sapi yang berproduksi tinggi memiliki siklus estrus yang lebih pendek, standing event yang lebih jarang, dan durasi estrus yang lebih pendek serta lebih seringnya multiple ovulation. Walaupun produksi susu yang tinggi kadang disangkutkan sebagai penyebab fertilitas yang rendah, pengaruh dari kondisi badan yang tidak memadai tampak lebih mendominasi, sebagaimana hal ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemungkinan terjadinya konsepsi, tingkat kerusakan embrionik, dan proporsi terjadinya anestrus. Pada dekade yang lampau, Perbaikan genetik terhadap fertilitas betina dapat dilakukan dengan seleksi langsung terhadap usia atau body condition scor (BCS), atau dengan seleksi langsung terhadap karakter keturunannya yaitu angka kebuntingan. Sebagian besar negara-negara penghasil susu telah menerapkan system evaluasi genetik terhadap fertilitas betina pada satu dekade yang lalu, namun perbaikan dari sistem ini untuk menghitung sinkronisasi hormonal, perbedaan masa menunggu, perkawinan alami dengan menggunakan pejantan dan faktor-faktor lain yang kurang mendukung bisa terjamin. Penelitian ini difokuskan pada pengembangan koleksi data dan sistem evaluasi genetik yang akan mempermudah seleksi pejantan yang memiliki keturunan yang tahan pada gangguan kesehatan, meliputi mastitis, kepincangan, ketosis, displasia abomasum dan metritis. Sistem seperti ini akan mempermudah pemilihan hewan yang dapat tetap sehat dan fertil ketika memproduksi susu dalam jumlah yang besar.
Kata kunci: Fertilitas, peternakan sapi perah, angka konsepsi, BCS, kesehatan hewan
Pendahuluan
Tantangan yang berhubungan dengan keberhasilan mencapai kebuntingan pada sapi-sapi dengan produksi tinggi yang modern telah mendapat perhatian yang serius dari para, peneliti, dokter-dokter hewan, dan para peternak akhir-akhir ini. Saat ini, perusahaan-perusahaan peternakan sapi perah cenderung memiliki angka konsepsi yang rendah, masa bebas yang lama, dan kemungkinan diafkir karena infertil yang tinggi dibandingkan dengan dua atau tiga dekade yang lalu. Program seleksi genetik telah memudahkan untuk memperoleh hasil susu yang besar dan sifat-sifat yang sesuai, namun performa beberapa sifat seperti fertilitas betina, umur, dan kerentanan terkena penyakit telah mengalami kemunduran. Sementara itu mustahil untuk mengatasi pengaruh seleksi genetis tersebut dari perubahan yang serempak pada manajemen nutrisi, perawatan hewan, dan reproduksi, sehingga tampak jelas bahwa seleksi genetik gagal menutupi perhatian terhadap kesehatan, fertilitas, dan masa hidup yang rendah pada dekade yang lalu. Besarnya variasi genetik saperti sifat-sifat unggulnya sangat mengejutkan, dan kami sekarang berfikir untuk mengambil manfaat dari penelitian yang terdahlu dan mengembangkan usaha–usaha mengenai definisi, ukuran, dan analisa genetik terhadap sifat–sifat ini.
Tujuan dari artikel ini adalah untuk meninjau beberapa perubahan biologis yang terjadi pada sapi-sapi perah dengan produksi tinggi dan mendiskusikan peluang–peluang untuk meningkatkan performa reproduksi melalui seleksi langsung pada hewan-hewan yang sangat subur atau melalui seleksi tidak langsung dari hewan-hewan yang memiliki kondisi tubuh yang baik dan tahan terhadap penyakit–penyakit metabolik dan penyakit–penyakit infeksi selama laktasi.
Aspek-aspek yang menarik dalam fertilitas pada sapi-sapi yang berproduksi tinggi
Produksi susu harian sapi pada peternakan modern dan komersil di Amerika Utara telah meningkat dua kali lipat selama empat dekade yang lalu. Kesamaan pertama antara sapi-sapi pada peternakan–peternakan besar di US adalah ada yang mencapai puncak produksi sebesar 40–45 kg/hari, dimana kesamaan kedua adalah ada yang mencapai puncak produksi sebesar 50–55 kg/hari. Lebih jauh lagi, masing–masing kelompok pernah mengalami produksi susu harian sebesar 40 kg/hari atau lebih selama tujuh bulan pertama postpartum. Oleh karena itu salah satu perbedaan yang diharapkan adalah pada reproduksi biologis sapi-sapi yang berproduksi tinggi yang diperbandingkan dengan sapi-sapi yang berproduksi rendah atau indukan muda.
Lopez dkk. (2005) mendiskusikan beberapa perbedaan antara reproduksi biologis dari sapi Holstein yang mengalami laktasi dengan sapi Holstein muda. Terutama sekali Lopez dkk. (2005) mencatat bahwa sapi-sapi yang mengalami laktasi memiliki durasi estrus yang lebih pendek (7-8 jam vs 11-14 jam), siklus estrus yang lebih lama dan lebih bervariasi (20-29 hari vs 20-23 hari), diameter folikel ovulatorik yang lebih besar (16-18 mm vs 14-16 mm), tingkat terjadinya anovulasi yang tinggi (20-30% vs 1-2%), ovulasi yang berlipat ganda (20-25% vs 1-3%) dan gagalnya kebuntingan (20-25% vs 3-5%). Lopez dkk. (2005) juga mendokumentasikan perbedaan karakteristik antara sapi-sapi yang sedang laktasi menurut tingkat produksi susunya. Mereka (Lopez dkk., 2005) menggunakan system HeatWatch (DDx, Inc., Denver, CO) untuk memantau karakteristik estrus pada 146 sapi Holstein yang berproduksi tinggi (46,4 kg/hari selama 10 hari estrus) dan 177 sapi Holstein dengan produksi yang rendah (33,5 kg/hari selama 10 hari estrus). Sapi–sapi dengan produksi tinggi memiliki durasi estrus yang lebih pendek (6,2 jam vs 10,9 jam) onset estrus yang lebih sedikit (6,4 vs 8,8) dan waktu onset tiap–tiap estrus yang lebih pendek (21,7 detik vs 28,2 detik). Durasi estrus menurun dari 14, 7 jam untuk sapi-sapi dengan produksi 25-30 kg/hari hingga 2,8 jam untuk sapi-sapi dengan produksi susu 50-55 kg/hari. Sebagai tambahan, persentase sapi dengan ovulasi yang berlipat meningkat dari 0,0% untuk sapi-sapi dengan produksi 25-30 kg/hari hingga 51,6% untuk sapi-sapi dengan produksi susu 50-55 kg/hari.
Tingkat kerusakan pada fase embrionik awal pada sapi Holstein juga menjadi perhatian utama, sebagaimana tercatat pada sejumlah penelitian akhir-akhir ini yang menggunakan ultrasonografi transvaginal untuk mendeteksi kebuntingan pada 27-31 hari setelah dikawinkan, yang ditegaskan dengan pemeriksaan kebuntingan via palpasi rectal pada hari ke 39-48 setelah dikawinkan. Dari sini dilaporkan bahwa tingkat kerusakan embrio pada waktu ini berkisar antara 0,07% sampai 1,40% per hari (Cartmil dkk., 2001; Cerri dkk., 2004; Santos dkk., 2004). Bagaimanapun estimasi tingkat kerusakan embrio (terutama dilaporkan dari peternakan komersial) dapat meningkat karena adanya penyimpangan dari diagnosa positif palsu pada pemeriksaan ultrasonografi awal, dimana sebagian besar dokter hewan biasanya telah berhati-hati ketika memutuskan bahwa sapi tersebut tidak bunting pada peternakan yang menggunakan program sinkronasi ulang hormonal.
Pada peternakan yang besar di barat US, angka konsepsi sapi Holstain yang ditetapkan oleh dokter hewan pada hari ke-75 setelah dikawinkan rata-rata mendekati konstan setelah 5 kali IB yang pertama (berturut-turut 0,30; 0,31; 0,31; 0,29 dan 0,28), sementara itu rata-rata pada sapi Jersey menurun dari awal IB hingga IB ke-5 (berturut-turut 0,42; 0,38; 0,34; 0,29 dan 0,27). Rata-rata konsepsi pada IB pertama cenderung menurun sejalan dengan umur pada kedua jenis sapi (berturut-turut untuk jenis Holstein 0,35; 0,29; 0,28; 0,26; 0,25 dan berturut-turut untuk jenis Jersey 0,44; 0,43; 0,41; 0,39; 0,37), walaupun tingkat penurunan pada IB yang berulang tidak begitu nyata dibandingkan dengan pada saat inseminasi pertama (Weigel, 2006 (belum dipublikasikan)). Kedua jenis telah diseleksi dari beberapa generasi pada kondisi manajemen yang sama, dan keduanya telah mengalami kemajuan yang cepat dalam hal genetik selama kurun waktu tiga dasawarasa terakhir (hasil rata-rata susu yang dihasilkan meningkat dari 6904 hingga 11608 kg pada jenis Holstein dan pada jenis Jersey mengalami peningkatan dari 4461 hingga 8273 kg pada kurun waktu 1970 hingga 2000). Perbedaan rata-rata konsepsi pada jenis Holstein ditemukan dari sapi-sapi dengan tingkat produksi susu yang berbeda, tetapi perbedaan-perbedaan yang lebih rendah dari lainnya merupakan pengecualian (Weigel, 2005 (belum dipublikasikan)). Rata-rata angka konsepsi pada hari ke-75 setelah dikawinkan adalah sebesar 0,33; 0,33 dan 0,32 pada sapi-sapi Holstein primipara dengan hasil rata-rata 36 kg/hari selama 3 bulan pertama laktasi dimana rata-rata yang sama yang diperoleh dari sapi-sapi Holstein multipara adalah sebesar 0,28; 0,28 dan 0,27 dengan hasil rata-rata 36. Pada jenis Wisconsin Holstein, Lopez dkk. (2005) menemukan bahwa tidak ada hubungan antara persentase sapi-sapi yang memperlihatkan kondisi anovulatorik dengan jumlah susu yang dihasilkan. Persentase sapi-sapi yang menunjukkan anovulasi sebesar 27,8% pada sapi-sapi yang menghasilkan 25-30 kg/ hari dan sebesar 26,3% pada sapi-sapi yang menghasilkan susu sebanyak 50-55 kg/hari (berarti 5 kg interval yang berkisar antara 21,7% hingga 35,1% tanpa adanya kecenderungan yang nyata). Pada jenis California Holstein, Santos dkk. (2004) menemukan hubungan yang lemah dan tidak signifikan antara hasil produksi susu dengan tingkat kerusakan embrio pada hari antara 31 hingga 45 setelah perkawinan, yaitu sebesar 9,7% untuk sapi-sapi yang berproduksi 36 kg/hari dan 12,7% untuk sapi-sapi yang berproduksi 52 kg/hari. Jadi, cenderung bahwa peningkatan produksi susu tidak semata-mata bertanggungjawab terhadap penurunan rata–rata performa reproduksi.
Pentingnya kondisi badan yang cukup memadai
Produksi susu yang tinggi, apakah merupakan hasil dari seleksi genetik, atau dari peningkatan nutrisi maupun perbaikan manajemen, kadang–kadang dilibatkan sebagai penyebab masalah–masalah kesehatan, fertilitas, dan pengafkiran pada peternakan modern. Bagaimanapun, hubungan yang rumit terjadi antara produksi susu, kesehatan dan performa reproduksi. sapi-sapi yang berproduksi tinggi cenderung lebih rentan terhadap gangguan metabolik dan penyakit–penyakit infeksi dan hal ini dapat memicu lemahnya fertilitas. Pada sisi yang lain, sapi-sapi yang sehat cenderung menghasilkan produksi susu yang tinggi dan performa reproduksi yang lebih baik daripada sapi-sapi yang tidak sehat. Sebaliknya, sapi-sapi yang tetap tidak bunting dan dibiarkan untuk memperoleh masa laktasi yang lebih lama cenderung menghasilkan produksi total yang lebih tinggi, karena lebih sedikit sumber–sumber yang dibutuhkan untuk menghasilkan anak. Hal tersebut merupakan, salah satu yang harus diperhatikan ketika mencoba merumuskan hubungan sebab-akibat antar karakteristik ini.
Banyak penelitian–penelitian saat ini yang berkenaan dengan hubungan antara sifat-sifat unggul genetik, status nutrisi, dan performa reproduksi telah menemukan suatu kesimpulan umum –semua itu berhubungan dengan kondisi tubuh yang kurang memadai. Sapi-sapi perah modern mengalami proses pembentukan jaringan tambahan pada masa akhir laktasi dan selama masa kering untuk menghabiskan cadangan setelah beranak dan pada awal laktasi, lalu membentuknya kembali pada saat akhir laktasi. Kondisi tubuh yang kurang memadai telah memicu timbulnya sejumlah masalah pada sapi-sapi yang sedang laktasi, meliputi kerentanan terhadap gangguan-gangguan metabolik (seperti ketosis dan displasia abomasum) dan fertilitas yang rendah. Beberapa penulis telah mencatat bahwa sapi-sapi dengan kondisi tubuh yang jelek pada awal laktasi atau hilangnya berat tubuh yang signifikan selama masa laktasi cenderung melemahkan performa reproduksi, meliputi peningkatan waktu dari masa parturisi ke onset dari aktifitas ovarium, tingkat konsepsi yang rendah, dan peningkatan lamanya hari (Pryce dkk., 2000; Royal dkk., 2002).
Lopez dkk. (2005) melaporkan hubungan yang kuat antara kondisi anovulasi dengan body condition score (BCS). Pada sapi-sapi US Holstein yang sedang laktasi dan memiliki BCS ≤ 2,50 (dalam skala 5), 83% diantaranya mengalami anovulasi.persentase lainnya adalah sebesar 38% untuk sapi-sapi yang memiliki BCS 2,75; 34% terjadi pada sapi dengan BCS 3,00; 22% terjadi pada sapi dengan BCS 3,25, dan 9% terjadi pada sapi dengan BCS ≥ 3,50. Pada peternakan Holstein besar yang memiliki manajemen yang baik di Wisconsin, Caraviello (2005) melaporkan tingkat konsepsi sebesar 31% untuk sapi-sapi dengan BCS 2,25; 36% pada sapi yang memiliki BCS 2,50; 40% pada sapi dengan BCS 2,75; dan 42% pada sapi yang memiliki BCS 3,00 atau 3,25.
Caraviello (2005) mengembangkan sistem untuk mengevaluasi persentase BCS yang jelek pada peternakan sapi komersial. Seorang evaluator yang terlatih mengukur BCS 8036 sapi pada suatu kunjungannya terhadap 63 peternakan besar selama periode 3 bulan. Ambang batas penetapan skor yang jelek adalah 3,00 (pada skala 5) untuk sapi pada saat 60 hari sebelum beranak sampai 30 hari setelah beranak; 2,50 untuk sapi 30 hari setelah beranak hingga 180 hari setelah beranak, dan 2,75 untuk sapi-sapi lebih dari 180 hari setelah beranak (namun tidak berlaku hingga 60 hari sebelum melahirkan kembali dan pada laktasi berikutnya). Gb. 1A dan B menunjukkan kelompok yang memiliki abnormalitas BCS yang sedikit dan banyak. Keuntungan utama dari system ini adalah menyediakan potret BCS dari ternak pada suatu sesi kunjungan evaluator.
Walaupun sederhana, sistem tersebut dapat berguna untuk memprediksikan fertilitas ternak sapi. Caraviello (2005) mengevaluasi hubungan antara persentase abnormalitas BCS pada ternak dengan persentase sapi-sapi yang segera bunting kembali pada hari ke-150 postpartus. Sebagaimana persentase yang abnormal meningkat dari 15% menjadi 45%, persentase sapi-sapi dalam kelompok yang bunting kembali pada hari ke-150 postpartus berkurang dari 80% menjadi 52%.
Karena perhatian akhir-akhir ini tentang konsekuensi negatif dari tidak memadainya kondisi tubuh pada sapi-sapi dengan produksi tinggi, Asosiasi Holstein USA memperkenalkan bobot ekonomi yang negatif (negative economic weight) untuk kondisi ternak, sebuah ukuran kekurusan yang mempunyai korelasi genetik yang terestimasi -0,80 dengan BCS (Dechow dkk. 2004) ke dalam indek seleksi (yang umumnya dikenal sebagai TPI)- pada tahun 2005. hal ini tampak seperti bahwa seleksi historis untuk sapi yang menunjukkan derajat karakter atau tingkat kekurusan yang tinggi (atau mungkin sapi yang benar-benar terlalu kurus) dapat menjadi lebih berbahaya daripada seleksi terhadap produksi susu yang tinggi, karena korelasi genetik yang bersifat antagonistik antara fertilitas dan BCS lebih besar daripada korelasi antara fertilitas dan produksi susu.
Seleksi genetik bagi fertilitas betina
Seleksi genetik untuk kesehatan, fertilitas dan umur telah dipraktekkan selama lebih dari dua dekade di beberapa negara Skandinavia, dan ini cenderung stabil (atau paling tidak meminimalisir) penurunan performa rata-rata seperti sifat-sifat unggul. Bagaimanapun, sebagian besar negara-negara penghasil susu tidak terlalu memperhatikan kesehatan, fertilitas dan umur hingga tahun 1990an. Di US, pengenalan evaluasi genetik untuk memperpanjang usia produktif pada tahun 1994 menyediakan kesempatan pertama untuk meningkatkan fertilitas betina melalui seleksi genetik (Van Raden dan Klaaskate, 1993). Meskipun lamanya masa produksi dapat memprediksi fertilitas secara tidak langsung, batas 10 bulan masa produksi per laktasi telah ditetapkan untuk menjamin bahwa sapi-sapi dengan calving interval yang tetap lebih disukai. Sebagaimana ditunjukkan pada Gb. 2, penurunan genetik pada tingkat kebuntingan dan ukuran fertilitas induk betina yang digunakan untuk evaluasi genetik pada indukan di US, cenderung stabil pada waktu dimana evaluasi indukan untuk lamanya produksi telah tersedia.
Walaupun seleksi secara tidak langsung untuk meningkatkan fertilitas yang berbasis evaluasi genetik pada lamanya produksi dapat membantu, seleksi langsung untuk meningkatkan fertilitas lebih diperlukan. Di US, evaluasi genetik pada tingkat kebuntingan sapi diperkenalkan pada tahun 2003 (VanRaden dkk., 2004). Data yang dimasukkan antara lain lamanya hari, yang dihitung sejak tanggal dikawinkannya dan calving interval yang disesuaikan dengan 21 hari untuk tujuan evaluasi genetik. Calving interval merupakan efisiensi reproduksi yang diukur dengan waktu pada peternakan sapi perah komersial di US yang dihitung dengan cara jumlah sapi yang bunting pada perkawinan selama periode 21 hari yang diberikan dibagi dengan jumlah sapi yang telah dikawinkan pada awal periode. Kelompok yang terpilh untuk dikawinkan meliputi yang telah melewati periode tunggu yang sengaja dibuat, namun belum bunting. Meskipun tingkat kebuntingan pada periode 21 hari secara khas digunakan sebagai ‘ukuran kelompok’ dari performa reproduksi, evaluasi indukan untuk sifat ini dapat diintrepretasikan sebagai perbedaan yang diharapkan pada periode kebuntingan 21 hari antara kelompok-kelompok anakan dari induk yang berbeda. (observasi tingkat kebuntingan 21 hari secara individu dapat berupa jumlah kesempatan yang dibutuhkan untuk terjadinya kebuntingan pada suatu kelompok). Perbedaan antar indukan sangatlah dramatis karena tingkat kebuntingan pada induk Holstein yang tertinggi dan terendah memiliki perbedaan sebesar 7,2%. Karena perbedaan 1% pada tingkat kebuntingan berarti kira kira ada selisih 4 hari (VanRaden dkk., 2004), anakan yang berasal dari induk-induk yang memiliki tingkat kebuntingan tertinggi memiliki perbedaan 29 hari dengan anakan yang berasal induk yang memiliki tingkat kebuntingan terendah per periode laktasi. Rata-rata tingkat kebuntingan antar jenis yang berbeda sebesar 4,9% berarti terdapat selisih 20 hari per periode laktasi. Perbedaan antar jenis juga ada dimana tingkat kebuntingan untuk jenis Jersey 4,6% lebih tinggi dari jenis Holstein atau Brown Swiss.
Tingkat kebuntingan pada sapi-sapi keturunan telah disatukan dengan seluruh index seleksi utama oleh para peternak di US, dengan bobot sebesar 5-7% dari total nilai ekonomi hingga perbaikan genetik pada fertilitas betina dapat diharapkan. Lebih jauh lagi, korelasi genetik yang terestimasi, sekalipun bersifat antagonis, jumlahnya cukup sedikit untuk menjamin tersedianya beberapa jenis keturunan yang memiliki tingkat produksi dan fertilitas yang tinggi. Perbaikan tambahan akan dibuat dalam evaluasi genetik untuk tingkat kebuntingan jenis keturunan dimasa depan, dimana Laboratorium Program Perbaikan Hewan USDA (Beltsville, MD) sedang mengembangkan database peristiwa reproduksi, meliputi pemerikasaan kebuntingan bagi dokter hewan, data sinkronisasi hormonal, data indukan alami, dan database tanda-tanda sapi-sapi yang tidak dapat dibiakkan dan akan diafkir pada akhir laktasi.
Seleksi genetik bagi kesuburan pejantan
Kemunduran dalam fertilitas betina menjadi perhatian utama dari dua bidang, baik para peneliti maupun para peternak, sehingga program perbaikan genetik saharusnya difokuskan untuk mengukur fertilitas betina, seperti tingkat lamanya hari dan tingkat kebuntingan keturunan. Bagaimanapun, banyak peternak yang tertarik dengan evaluasi fertilitas pejantan dari induk-induk yang tersedia untuk Inseminasi Buatan. Di US, ada dua sistem regional untuk mengevaluasi fertilitas pejantan. Yang pertama, menunjukkan tingkat konsepsi relatif yang terestimasi (Dairy Record Management system, Raleigh, NC), meliputi data dari peternakan-peternakan kecil hingga menengah di setengah US bagian timur dan didasarkan pada angkat tak kembalinya estrus setelah diinseminasi pertama kali pada hari ke-70. yang kedua, merupakan Western Bull Fertility Analysis (Agri-Tech Analytics, Visalia, CA), meliputi data dari peternakan besar di bagian barat US dan didasarkan pada angka konsepsi pada hari ke-75 yang ditetapkan oleh dokter hewan (hingga 5 kali inseminasi pada tiap sapi) per laktasi. Estimasi hasil dari fertilitas pejantan digunakan secara luas oleh para peternak ketika membeli semen. Walaupun terdapat perbedaan sebesar 4-5% antara pejantan tertinggi dan terendah, dimana sebagian besar variasi pada fertilitas pejantan berasal dari pejantan yang diafkir dengan fertilitas yang kurang dan pembuangan ejakulat yang tidak memenuhi standar laboratorium.
Seleksi Genetik untuk kesehatan hewan
Walaupun system evaluasi genetik telah tersedia untuk menguji fertilitas dan lama hidup pejantan, perbaikan tambahan tetap memungkinkan. Topik yang sedang menarik di US dan Kanada adalah seleksi genetik untuk ketahanan terhadap gangguan metabolik dan penyakit-penyakit infeksius tertentu. Seleksi untuk peningkatan kesehatan hewan dapat dilakukan untuk mengurangi biaya dokter hewan dan mengurangi pengafkiran sejalan dengan peningkatan kesejahteraan hewan. Perbaikan genetik terhadap kesehatan hewan akan memicu peningkatan performa reproduksi yang serempak. Dengan menggunakan metodologi analisa waktu kegagalan, Weigel (2004) menunjukkan bahwa resiko relatif untuk mencapai kebuntingan yang terbatas pada sapi Holstein menurun karena adanya distokia (0,74), metritis (0,80), retensi plasenta (0,82), mastitis (0,93), ketosis (0,92), displasia abomasums (0,89), dan kepincangan (0,90) jika peristiwa ini terjadi antara kelahiran hingga hari ke-75 postpartus.
Saat ini, hanya Negara-negara Skandinavia yang memiliki catatan data nasional dan system evaluasi genetik untuk sifat-sifat seperti mastitis klinis dan gangguan-gangguan pada sistem digesti, lokomotif dan reproduksi. Bagaimanapun, penelitian saat ini oleh Zwald dkk. (2004a,b) mengindikasikan bahwa data kesehatan yang diperoleh dari formulir yang terdapat di peternakan dan diolah menggunakan software program manajemen ternak dapat digunakan lebih efektif untuk tujuan seleksi genetik. Dengan mengambil data dari peternakan komersial besar yang diolah menggunakan Software Program Manajemen Dairy Comp 305 (Valley Agriculture Software, Tulare, CA), PCDART (Dairy Records Management Systems, Raleigh, NC), atau DHI-Plus® (DHI-Provo, Provo, UT), Zwald dkk. (2004a,b) mengelompokkan masalah kesehatan hewan yang tercatat oleh peternak menjadi enam kategori: displasia abomasums, ketosis, mastitis, kepincangan, cysta ovarium dan metritis/retensi plasenta. Tingkat insidensi saat laktasi adalah bervariasi dari 3% untuk displasia abomasum hingga 21% untuk kasus metritis/retensi plasenta, dan mayoritas meluas selama 60 hari postpartus. Estimasi heritabilitas 0,14 untuk displasia abomasum; 0,06 pada ketosis; 0,09 pada mastitis; 0,04 pada kepincangan; 0,04 pada cysta ovaria dan 0,06 pada metritis/ retensi plasenta. Prediksi kemungkinan terkena penyakit (per laktasi) pada sapi-sapi keturunan bervariasi dari 1,7% hingga 6,1% pada kasus displasia abomasum; 6,3% hingga 13,2% pada kasus ketosis; 12,9% hingga 25,9% pada kasus mastitis; 7,7% hingga 13,1% pada kasus kepincangan; 5,9% hingga 9,1% pada kasus cysta ovaria dan 15,1% hingga 27,1% pada kasus metritis/retensi plasenta. Korelasi genetik antar gangguan bervariasi dari sedang hingga positif, yaitu antara +0,10 dan +0,40, dimana korelasi antar jenis yang diprediksikan menurunkan kemampuannya untuk melawan gangguan kesehatan spesifik dan diprediksi menurunkan kemampuannya terhadap tingkat kebuntingan sapi-sapi keturunan. Hal ini mengindikasikan bahwa seleksi genetik memungkinkan untuk meningkatkan kesehatan secara menyeluruh, sebagaimana ia dapat melawan penyakit-penyakit dan gangguan-gangguan yang spesifik.
Sangat penting untuk dicatat bahwa heterogenitas diagnosa, perawatan dan pencatatan terhadap penyakit-penyakit dan gangguan-gangguan spesifik dapat timbul antar petenakan yang berbeda. Heterogenitas seperti itu dapat menghambat perbandingan status kesehatan pada kawanan ternak yang berbeda atau untuk mengevaluasi waktu-waktu tertentu yang spesifik pada ternak. Karena evaluasi genetik pada indukan ternak didasarkan pada penyimpangan antara performa dari keturunannya dengan performa ternak lain dalam satu kawanan pada waktu yang sama, dan karena turunan dari keturunan induk yang diuji didistribusikan ke dalam ratusan ternak, kesalahan kecil atau penyimpangan yang terjadi dalam kelompok yang lebih kecil cenderung tidak mempengaruhi estimasi sifat-sifat unggul genetik induk. Namun, validasi dari kualitas dan kelengkapan data dari suatu peternakan sangant penting. Secara keseluruhan masa depan cerah untuk pelaksanaan program seleksi untuk meningkatkan kesehatan hewan, dan tambahan terhadap fertilitas dapat diharapkan.
Kesimpulan
Ringkasnya, sangatlah jelas jika reproduksi biologi dari sapi-sapi produksi tinggi saat ini berbeda dengan nenek moyang mereka dan dengan sapi-sapi dara. Sapi-sapi produksi tinggi cenderung memiliki siklus estrus yang lebih pendek, standing event yang rendah (atau durasi yang lebih singkat), dan kemungkinan ovulasi berlipat yang tinggi. Seleksi genetik langsung untuk meningkatkan fertilitas betina mungkin dilakukan dengan menggunakan sifat-unggul seperti angka kebuntingan sapi-sapi turunan, Seleksi secara tidak langsung yang menggunakan sifat-sifat unggul seperti lama hidup, atau BCS dapat juga ditambahkan. Negara-negara penghasil ternak sekarang memiliki sistem untuk menilai ternak-ternak indukan yang didasarkan dari performa reproduksi keturunanya, namun perbaikan pada sistem koleksi data perlu dilakukan untuk menjamin informasi mengenai pemeriksaan kebuntingan, sinkronisasi hormonal, perkawinan alami dan penentuan sapi-sapi yang diafkir yang secara rutin dilaporkan. Terakhir, perkembangan pengambilan data dan sistem evaluasi genetik yang dapat menilai ternak indukan dari kerentanan turunannya terhadap gangguan kesehatan yang meliputi mastitis, kepincangan, ketosis, displasia abomasum, dan metritis/retensi plasenta dapat memudahkan pemilihan sapi-sapi yang sehat, tahan lama dan dapat segera bunting dalam waktu yang telah dijadwalkan tanpa campur tangan manajemen yang berlebihan.