Text Size
Wednesday, September 08, 2010

Koasistensi Diagnosa Laboratorium

Kumpulan Makalah Koasistensi Diagnosa Laboratorium Read more

Koas Reproduksi

Kumpulan Makalah Koasistensi Reproduksi Read more

http://koas.vet-klinik.com/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/802141kodil.jpg http://koas.vet-klinik.com/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/115956Repro.jpg
/index.php?option=com_content&view=article&id=43&catid=43&Itemid=43 /index.php?option=com_content&view=article&id=43&catid=43&Itemid=43
Top Tab Content
Koasistensi Koasistensi Reproduksi Koleksi Dan Evaluasi Semen Kucing

Koleksi Dan Evaluasi Semen Kucing

KOLEKSI DAN EVALUASI SEMEN PADA KUCING

Oleh :
Shirley D. Johnston, DVM, PhD, DACT, Margaret V. Root Kustritz, DVM, PhD, DACT, Patricia N.S. Olson, DVM, PhD, DACT.

Penerjemah :
Fajar Shodiq Permata, SKH 

    Karakteristik sampel semen kucing yang dikoleksi dengan berbagai metode koleksi tercantum pada table 37-1.

Koleksi Semen
 
    Sperma kucing telah dapat dikoleksi menggunakan: 1) vagina buatan dengan ejakulasi yang sadar dari kucing jantan, 2) dengan elektroejakulator pada kucing jantan yang teranastesi, 3) dengan membilas vagina setelah betina kawin (postcoitus), dan 4) dengan koleksi dari urine secara cystocentesis (pengisapan pada vesica urinaria) kucing jantan setelah ejakulasi.
    Kucing pejantan harus dilatih untuk mengejakulasikan ke dalam vagina buatan (artificial vagina). Vagina buatan berbentuk pipet karet silinder 2 ml dengan ujung depan berupa lubang untuk penis dan ujung belakang disambungkan dengan tabung koleksi (test tube) sebesar 3x44mm. Tabung vagina buatan dan tabung koleksi dimasukkan ke dalam botol polyethylene yang diisi dengan air 52oC untuk membuat suhu vagina buatan sekitar 44o-46oC (Gambar 37-1) (Sojka et al, 1973; Sojka1, 1980). Latihan berupa melatih pejantan berulang kali dengan menggunakan betina yang estrus. Lima kucing laboratorium yang dipilih secara acak, tiga kucing dari lima kucing tersebut sudah terlatih untuk ejakulasi ke dalam vagina buatan setelah 2 minggu melakukan latihan dengan betina estrus (Sojka et al, 1973; Sojka2, 1980; Sojka3, 1980).

Gambar 37-1. Komponen dari vagina buatan untuk kucing jantan (A dan B), dan koleksi semen dari kucing jantan yang terlatih (C). Komponen meliputi tabung koleksi, pipet silinder Pasteur, tabung tes (tabung koleksi) 6 x 50 mm dari kaca dan 100 ml botol polyethylene, sebagai tempat air hangat (44-46oC) untuk mengkontrol temperature. Peralatan untuk koleksi tidak kelihatan, terletak diantara kaki penjantan, penjantan menahan betina pemancing dengan gigi. (Dari Sojka NJ: Management of artificial breeding in cats In Marrow DA (ed): Current Therapy Theriogenology: Diagnosis, Treatment, and Prevention of Reproductive Disease in Small and Large Animals, 2nd ed. Philadelphia, WB Saunders, 1986, pp 805-808, dengan ijin).

Koleksi semen tiap minggu dari 2 pejantan selama 3 minggu menggunakan vagina buatan menunjukkan variasi yang tinggi dari segi volume dan jumlah total spermatozoa dengan perubahan relatif sedikit dari persentase spermatozoa abnormal dan persentase motilitas yang progresif. Ketika pejantan yang sama dikoleksi 3 kali seminggu selama 1 minggu, volume semen dan jumlah spermatozoa tampak lebih stabil dan mendekati jumlah yang sama dengan koleksi per minggu. Koleksi semen per hari dari 2 pejantan menyebabkan penurunan jumlah spermatozoa pada hari keempat, koleksi hari keempat adalah lebih sedikit 1,5 dari jumlah spermatozoa pada koleksi hari pertama, tetapi jumlah yang diejakulasikan stabil (14-45 juta spermatozoa per ejakulasi) setelah diistirahatkan selama 11 hari. Ini memberi kesan bahwa persediaan di luar gonad dikeluarkan setelah ejakulasi tiap hari setelah 4 hari, dan jumlah spermatozoa (persediaan di luar gonad) tersebut sama dengan jumlah keluar sperma harian. Walaupun penelitian tentang ini sedikit, hal tersebut menunjukkan bahwa kucing jantan dapat digunakan pemacek/ dikoleksi 3 kali seminggu tanpa adanya penurunan jumlah spermatozoa per ejakulasi.
Elektroejakulasi pertama dilaporkan bahwa dilakukan pada kucing yang teranestesi dengan ketamine hydrochloride oleh Platz et al (1976); ejakulat diperoleh dengan cara 180 stimulus sebesar 2-8 V menggunakan rectal probe Teflon dan stainless steel (Gambar 37-2)¬ (Platz et al, 1976). Penelitian mengenai penggunanan ejakulator dengan waktu yang pendek berangkaian dan dalam waktu yang lama, serta  penelitian mengenai efek tegangan dan aplikasi perubahan tegangan terhadap kualitas semen pada kucing jantan yang teranestesi dengan ketamine hydrochloride yang diejakulator menggunakan automatic stimulus delivery ejaculator telah dilaporkan (Dooley et al, 1983; Pineda et al, 1984; Pineda dan Dooley, 1984; Pineda dan Dooley, 1991). Ketika 4 rangkaian ejakulat diperoleh pada koleksi seminal tunggal mingguan selama 22 minggu, tampak adanya efek yang signifikan pada rangkaian ejakulat tersebut yaitu volume semen dan jumlah spermatozoa per ejakulat; pengulangan mingguan anestesi dan ejakalutor tidak mengubah kualitas semen secara signifikan, walaupun ada kecenderungan bahwa volume ejakulat menjadi meningkat (Pineda et al, 1984). Pada penelitian aplikasi tegangan, tampak adanya efek pada jumlah spermatozoa per ejakulat kucing akibat jenis kucing dan akibat besarnya aplikasi besarnya tegangan yang digunakan, yaitu lebih banyak spermatozoa yang dikoleksi pada tegangan 4 atau 8 V daripada 1 atau 2 V; stimulasi dengan 8 V menunjukkan adanya kontaminasi urin pada beberapa ejakulat (Pineda dan Dooley, 1984). Penulis disini berpendapat bahwa memisahkan antara efek tegangan pada pengeluaran semen (epididimis, vasa deferensia) dan ejakulasi (otot urethral) pada kucing mungkin akan menyebabkan teramatinya derajat variasi jumlah spermatozoa yang tinggi.  Elektroejakulator untuk koleksi semen telah digunakan pada kucing jantan yang teranestesi dengan campuran xylazine dan ketamine secara intravena (IV) atau dengan sodium thiopenthone dan atropine secara intramuskular (IM) (Johnstone, 1984). Anasetika dan protokol penggunaan tegangan untuk elektroejakulator pada kucing jantan ditunjukkan pada Tabel 37-2.


Gambar 37-2. Stimulator elektrik dan Teflon rectal probe untuk ejakulator pada kucing jantan. Probe ini dimasukkan ke dalam 9 cm ke dalam rectum pada kucing yang telah teranestesi, dan digunakan variasi stimulus antara 2-7 V (lihat Tabel 37-2). (Courtesy of PT Electronics, Boring, OR)

Pembilasan vagina pada kucing betina post koitus (setelah kawin), atau koleksi spesimen sitologi vagina setelah kopulasi, mungkin akan mendapatkan spermatozoa (Gambar 37-3). Ketika pembilasan vagina dengan 1 ml larutan saline yang dilakukan segera setalah kawin antara 5 kucing normal betina dan 5 kucing normal jantan, didapatkan 40.000 sampai 10.240.000 spermatozoa (Platz et al, 1978).

Gambar 37-3. Spesimen sitologi vaginal dari kucing betina yang estrus, menunjukkan adanya kepala spermatozoa (tanda panah) dan sel epitel kornifikasi. Hematoxylin dan Eosin.

Kucing jantan dilaporkan bahwa 15-90 persen (rata-rata = 46,8 persen) dari ejakulat mengalami aliran balik (retrograde) ke dalam vesica urinaria selama ejakulasi (Tabel 37-3) (Dooley et al, 1983; Dooley et al, 1984; Dooley et al, 1991). Koleksi urin dengan cystocentesis dari kucing jantan setelah ejakulasi diikuti dengan pemeriksaan sedimen urin untuk menemukan spermatozoa adalah prosedur yang berguna pada praktek hewan kecil untuk melihat kucing tersebut memproduksi sperma atau tidak.

 
Evaluasi Semen
Volume semen
    Evaluasi kucing masih tidak begitu dalam dipelajari karena tingkat kesulitan dalam koleksi dan cairan yang diperoleh sedikit. Volume ejakulat yang dikoleksi dengan vagina buatan telah dilaporkan sekitar 0,01-0,12 ml dan koleksi dengan elektroejakulator sekitar 0,001-0,738 ml, dan volume tersebut mengandung 3-143 juta spermatozoa (vagina buatan) dan 0,05-153 juta spermatozoa (elektroejakulator) per ejakulat (Tabel 37-1). Volume semen ditentukan dengan satuan volume atau dengan pipet kalibrasi 100 μl (Platz and Seager, 1978).

Jumlah sel spermatozoa
    Konsentrasi sperma biasanya ditentukan dengan menggunakan prosedur perhitungan hemocytometer standart, dengan semen yang tidak diencerkan atau dengan pengenceran 1:10, 1:25, 1:50 atau 1:100 dengan air destilasi (Pineda et al, 1984). Spermatozoa dihitung pada 1 mm3 area dari hemocytometer Neubauer dan dikali 106 sebagai konsentrasi spermatozoa per millimeter sampel yang diencerkan 1:100. Satu hal yang perlu yang diperhatikan yaitu adanya perbedaan nilai atau jumlah sperma yang diperoleh dari pemeriksa yang berbeda, dikarenakan teknik elektroejakulator yang digunakan berbeda sehingga mengubah volume semen dan jumlah spermatozoa (Pineda et al, 1984; Pineda dan Dooley, 1984). Sebagai contoh, Johnstone menggunakan protokol elektroejakulator Johnstone mendapatkan banyak variasi kualitas semen diantara semen yang dikoleksi dari kucing yang sama dan jumlah spermatozoa yang lebih sedikit dibandingkan peneliti lainnya. Johnstone menggunakan aplikasi tegangan maksimum sebesar 2-3V. Penelitian lainnya, Pineda dan Dooley melaporkan bahwa tegangan 4-8V menghasilkan jumlah spermatozoa terbesar per ejakulat dibandingkan tegangan 1-2V (Johnstone, 1984; Pineda dan Dooley, 1984). Namun, pengaruh besarnya aplikasi tegangan pada besarnya aliran balik setelah ejakulasi belum diketahui (Dooley et al, 1984).
    Perhitungan spermatozoa pada ejakulat yang dikoleksi dengan ejakulator dari 10 kucing jantan dewasa yang mengalami penyumbatan bilateral dari duktus deferen adalah 3 kucing menunjukkan kosong (tidak ada spermatozoa) setelah 2 hari penyumbatan, 3 kucing yang lain dan 4 kucing yang lain dari 10 kucing tersebut memproduksi spermatozoa masing-masing sampai hari ke-5 dan hari ke-10 selama perlakuan ejakulator setelah penyumbatan duktus. Semua kucing mengalami azoospermia setelah hari ke-10 (Wildt et al, 1981).
 
Motilitas progresif dari spermatozoa
    Persentase spermatozoa motil yang progresif biasanya ditentukan dengan pemeriksaan semen tanpa diencerkan dan segera diperiksa di bawah mikroskop dengan perbesaran  400x setelah koleksi semen; rata-rata persentase spermatozoa yang motil progresif yang telah diteliti yaitu sekitar 60-90 persen sebagai persentase yang normal untuk kucing.

Morfologi sel spermatozoa
    Spermatozoa kucing memiliki panjang kira-kira 26 μm, dibandingkan dengan spermatozoa anjing yang memiliki panjang sekitar 36 μm (Greeson dan Zlotnik, 1945). Persentase spermatozoa yang memiliki morfologi abnormal pada ejakulat ditentukan dengan pemeriksaan 200 spermatozoa menggunakan phase-contrast microscopy atau mikroskop cahaya setelah dilakukan perwarnaan dengan Diff-Quik* atau perwarnaan eosin-negrosin.†
    Spermatozoa kucing normal yang diperiksa dengan mikroskop cahaya dan mikroskop scanning electron dapat dilihat pada Gambar 37-4. Persentase rata-rata spermatozoa yang memiliki morfologi normal telah dilaporkan sekitar 70 persen pada kucing (Tabel 37-1). Abnormalitas morfologi dari spermatozoa kucing telah dilaporkan berupa makrocephalus, mikrocephalus, kepala ganda, ekor ganda, ekor memuntir ke depan (Gambar 37-5A), badan (midpiece) bengkok, dan adanya droplet sitoplasma pada distal (Gambar 37-5B,C), kepala lepas dan ekor putus (Gambar 37-5D) (Howard et al, 1990).
 
* Diff Quik Set; Harleco, Gibbstown, NJ. Siapkan apusan semen pada objek glass dan keringkan. Celupkan objek glass selama 5 menit untuk tiap 3 cairan (fiksasi, peerwarna eosin, perwarna hematoxylin) yang disiapkan sebagai set perwarna, bilas pelan-pelan dengan air mengalir dan keringkan. Periksa dengan minyak emersi (1000x) tanpa cover glass
† Perwarnaan Morfologi Eosin-Nigrosin; Society for Theriogenology, Hastings, NE. Campurkan 1 tetes semen dengan 1 tetes perwarna dan apuskan dengan slide pengoles ke seluruh glass obyek. Biarkan kering dan periksa dengan minyak emersi (1000x) tanpa cover glass

Gambar 37-4. (A) Spermatozoa normal kucing diperiksa dibawah mikroskop cahaya dengan perwarnaan eosin-negrosin (1000x) (B) atau dengan mikroskop scanning electron. Pada mikrokgraf scanning electron, midpiece tampak adanya cekungan ke dalam (tanda panah) di daerah leher. (Dari Schmehl ML, Graham EF: Ultrastructure of domestic tom cat (Felis domestica) and tiger (Panthera tigris altaica) spermatozoa. Therionogenology 31: 861-874, 1989, dengan ijin).

Gambar 37-5. (A) Spermatozoa abnormal kucing yang diperiksa dengan mikroskop scanning electron (B sampai D) atau dengan mikroskop cahaya dengan perwarnaan eosin-negrosin (1000x). (A)Abnormalitas berupa ekor memuntir di bagian proksimal, (B) droplet sitoplasmik di proksimal,    (C) droplet sitoplasmik di distal, dan (D) ekor putus.

Adanya akrosom yang lengkap pada spermatozoa yang tidak mengalami reaksi akrosom mungkin dapat dilihat pada sampel semen kucing yang diwarnai dengan larutan 1% fast green FCF (Eastman Kodak Co, Rochester, NY 14650), 1% rose Bengal, dan 40% ethyl alcohol dalam 0,1 M asam sitrat dan 0,2 M disodium phosphate buffer (Pope et al, 1991). Semen diencerkan dengan 2,9% sodium sitrat, dan ditambah dengan larutan perwarna dengan volume yang sama dan diinkubasi selama 70 detik pada suhu kamar. Teteskan campuran tersebut dan buat preparat apus pada obyek glass dan keringkan pada suhu 37oC. Pemeriksaan status akrosom dengan cara diperiksa pada perbesaran 1000x; akrosom yang lengkap dapat terlihat berupa warna biru keunguan yang terletak di bagian depan dari kepala spermatozoa. Jika terjadi kehilangan akrosom, maka bagian depan dari kepala tampak tidak berwarna atau berwarna cahaya merah muda (karena lampu mikroskop) (Pope et al, 1991).

Ultrastruktur sel spermatozoa kucing

    Sperma kucing jantan diperiksa dengan mikroskop scanning dan transmission electron tampak memanjang, kepala berbentuk oval dengan 2 bidang yang simetris (longitudinal dan lateral) (Gambar 37-4) (Schmehl dan Graham, 1989). Leher tampak meruncing masuk ke dalam antara kepala dan midpiece (Sato dan Oura, 1984; Schmehl dan Graham, 1989). Potongan longitudinal (membujur) dari kepala dan leher (Gambar 37-6A) menunjukkan matrix akrosomal yang padat dengan material elektron padat disekitar mikrotubulus dari sentriol proksimal. Potongan melintang pada midpiece dari spermatozoa dari kucing jantan (Gambar 37-6B dan C) menunjukkan pada central pair dari mikrotubulus dikelilingi oleh sembilan mikrotubulus ganda dan pembuluh panjang yang padat.

Gambar 37-6. Pemeriksaan ultrastruktur spermatozoa kucing dengan mikroskop transmission elektron. (A) Potongan longitudinal (membujur) dari kepala dan leher menunjukkan segmen equatorial yang jelas dan material yang padat (tanda panah), yang mengelilingi mikrotubulus pada centriol proksimal. (B dan C) Potongan melintang dari midpiece menunjukkan central pair dari mikrotubulus yang dikelilingi dengan sembilan double mikrotubulus dan sembilan pembuluh yang padat. (Tanda panah, B) Membran plasma melapisi cincin mitokondria. Cincin mitokondria mengelilingi mikrotubulus. (C) Potongan kaudal menunjukkan adanya material yang kurang padat dan kadang-kadang tampak adanya pembuluh yang bilobus (tanda panah). (Dari Schmehl ML, Graham EF: Ultrastructure of domestic tom cat (Felis domestica) and tiger (Panthera tigris altaica) spermatozoa. Therionogenology 31: 861-874, 1989, dengan ijin).

Kimiawi plasma seminalis

    Plasma seminalis kucing memiliki pH dan unsur kimiawi lainnya yang ditunjukkan pada Tabel 37-1 dan 37-4. Berat jenis, osmolalitas, dan anion gap dari plasma seminalis kucing mirip dengan gambaran pada serum darah. Alkaline phosphate tampak sangat signifikan pada plasma seminalis yang berasal dari testis dan atau dari epididimis, oleh karena itu, pada kucing dan juga anjing, enzim ini digunakan sebagai tanda untuk menilai epididimis (Tabel 37-4) (Frenette et al, 1986).

Tabel 37-4. Karakteristik dan Kimiawi Plasma Seminalis Kucing pada Sampel yang dikoleksi dengan Elektroejakulator dari enam Kucing Jantan sebelum dan sesudah Prescrotal Vasectomy atau Prescrotal Vasectomy dan Pengambilan Kelenjar Bulbourethral

 

 

 

Cairan Prostat dan

 

 

Plasma Seminalis

Bulbourethral

Cairan Prostat

Parameter

(S)

(P+B)

(P)

Volume/ejakulat, ml

0,125*(0,011)†

0,165*(0,019)†

0,04*(0,006)†

Ph

6,6 (0,1)

6,7 (0,1)

7,8 (0,6)

Berat jenis

1,007 (0)

1,006 (0)

1,007 (0)

Osmolalitas, mOsm/L

323 (3)

327 (2)

331 (3)

Anion gap

–6,5 (1,4)

–6,7 (2,5)

–1,4 (3,6)

Albumin, g/dl

0,155 (0,008)

0,115 (0,024)

0,115 (0,009)

Asam fosfat, U/L

23,6 (2,8)

3,7 (1,1)

7,0 (1,8)

Alanine transaminase, U/L

18,0 (5,6)

41,2 (5,3)

37,5 (9,4)

Alkaline phosphatase, U/L

160,335 (15,558)

445 (170)

281 (164)

Aspartate transaminase, U/L

16 (2)

13 (2)

22 (4)

Kalsium, mg/dl

< 4

< 4

< 4

Klorida, mEq/L

161 (1,4)

163 (3)

159 (0)

CO2, total mEq/L

11,4 (0,5)

12,3 (0,7)

12,4 (1,6)

Glukosa, mg/dl

1,0 (0,5)

0 (0)

1,5 (0,5)

Fosfor, mg/dl

1,18 (0,17)

0,20 (0,04)

0,75 (0,15)

Potassium, mEq/L

14,1 (0,5)

16,0 (0,6)

15,5 (0,5)

Protein, total, g/dl

0,31 (0,04)

0,17 (0,02)

0,19 (0,04)

Sodium, mEq/L

166 (2)

168 (1)

151 (17)

Urea nitrogen, mg/dl

16,2 (0,5)

14,0 (0,7)

15,5 (2,5)

 * rata-rata
† standart error
Dari Johnson SD, Osborne CA, Lipowitz AJ: Characterization of seminal plasma, prostatic fluid,- and bulbourethral gland secretions in the domestic cat. Dalam Proceedings of the 11th International Congress on Animal Reproduction and Artificial Insemination, Dublin, Ireland, 1988, Vol IV, p 560, dengan ijin

Mikrobiologi plasma seminalis

   Kumpulan bakteri aerobik pada semen yang diejakulasikan dari kucing yang normal mengandung Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Proteus mirabilis, Klebsiella oxytoca, Streptococcus dan Staphylococcus (Tabel 37-5) (Johnston et al, 1996). Bakteri-bakteri tersebut mungkin bakteri yang normal yang terdapat pada urethral yang ikut keluar saat ejakulasi, karena bakteri-bakteri tersebut juga ditemukan pada saat kultur dari preputium (Cox et al, 1985; Johnston et al, 1996). Dalam 29 sampel semen dari 6 kucing jantan muda yang fertil (dengan penghilangan urin terlebih dahulu dengan cystocentesis), mengandung 28 bakteri positif yang tumbuh, antara 1 isolat (n = 8 dari 28) sampai 4 isolat (n = 3 dari 38) per sampel. Dua puluh dari 60 isolat mengandung lebih dari 100.000 bakteri per millimeter semen, 21 isolat mengandung 10.000 sampai 95.000 bakteri per millimeter semen dan 19 isolat mengandung bakteri kurang dari 10.000.

Assay penetrasi spermatozoa

     Spermatozoa kucing yang telah terkapasitasi mampu melakukan penetrasi ke dalam zona free oosit hamster dan zona intact dari oosit kucing domestik telah dilaporkan (Bowen, 1977; Niwa et al, 1985; Howard et al, 1988; Goodrowe et al, 1989; Goodrowe dan Hay, 1993). Persentase penetrasi ke dalam zona free ovum hamster oleh spermatozoa normospermic kucing telah diteliti sebesar 10,5 persen (n = 1065); persentasi penetrasi ke dalam zona intact dari ovum kucing oleh spermatozoa normospermic kucing juga telah diteliti sebesar 62,6 persen(n = 222) (Howard et al, 1988; Goodrowe et al, 1989).

Tabel 37-5. Bakteri Aerobik pada Semen Kucing yang Dikoleksi dengan Elektroejakulator dan dari Mukosa Preputium yang berasal dari Kucing Jantan Muda Dewasa dengan Kualitas Semen Normal*

 

 

 

 

 

 

Mukosa

 

 

 

 

 

 

 

Preputium

Semen

Identikasi Bakteri

 

 

 

 

 

 

 

 

Escherichia coli,

 

15

14

 

    β-Hemolytic

 

 

 

 

Pseudomonas aeruginosa

 

11

14

 

Proteus mirabilis

 

 

10

10

 

Klebsiella oxytoca

 

 

7

10

 

Streptococcus sp.

 

 

8

5

 

Escherichia coli,

 

4

1

 

    Nonhemolytic

 

 

 

 

Enterococcus sp.

 

 

3

 

 

Bacillus sp.

 

 

2

1

 

Serratia odorifera

 

 

2

 

 

Streptococcus

 

 

2

3

 

    Enterococcus

 

 

 

 

 

Staphylococcus sp.

 

2

1

 

Yersinia intermedia

 

1

 

 

Acinetobacter sp.

 

 

 

1

 

Tidak tumbuh

 

 

3

1

 

Total

 

 

 

70

61

Jumlah Isolat Bakteri

 

 

 

 

 

 

 

4 isolat

 

 

 

5 sampel

3 sampel

 

3 isolat

 

 

 

9 sampel

6 sampel

 

2 isolat

 

 

 

8 sampel

11 sampel

 

1 isolat

 

 

 

4 sampel

8 sampel

 

Tidak tumbuh

 

 

3 sampel

1 sampel

Jumlah Unit Koloni yang terbentuk per ml Sampel per Isolat :

 

 

 

 

> 100.000

 

 

10 isolat

20 isolat

 

10.000 sampai 95.000

 

1 isolat

21 isolat

 

< 10.000

 

 

 

56 isolat

19 isolat

 

Tidak tumbuh

 

 

3 sampel

1 sampel

 *Kultur preputium dikoleksi dengan usapan steril menggunakan swab kapas mengelilingi permukaan penis dan hasil swab dimasukkan ke dalam 3 ml cairan Laktat Ringer lalu dikirim ke laboratorium. n=29
Diambil dari Johnson SD, Root MV, Olson PNS : Ovarian and testicular function in the domestic cat: Clinical management o spontaneus reproductive disease. Anim Reprod Sci 42:261-274,1996, dengan ijin.

Persentasi penetrasi oleh spermatozoa teratospermic kucing (spermatozoa dengan morfologi normal < 40 persen) sebesar 2,8 persen (n = 1076) untuk penetrasi ke dalam ovum hamster dan 14,6 persen (n = 146) untuk penetrasi ke dalam ovum kucing. Persentase penetrasi ke dalam ovum hamster sebesar 5 persen (12 dari 238) dengan menggunakan spermatozoa dari epididimis dan sebesar 28 persen (67 dari 240) dengan menggunakan spermatozoa dari epididimis yang telah dibekuka semalam (Goodrowe dan Hay, 1993). Spermatozoa kucing dari duktus deferens dapat membuahi atau terjadi fertilisasi ovum kucing secara in vitro tanpa kapasitasi in vivo (Bowen, 1977).
hamster oleh spermatozoa normospermic kucing telah diteliti yaitu sebesar 10,5 persen (n = 1065); persentasi penetrasi ke dalam zona intact dari ovum kucing oleh spermatozoa normospermic kucing juga telah diteliti yaitu sebesar 62,6 persen (n = 222) (Howard et al, 1988; Goodrowe et al, 1989). Persentasi penetrasi oleh spermatozoa teratospermic kucing (spermatozoa dengan morfologi normal < 40 persen) sebesar 2,8 persen (n = 1076) untuk penetrasi ke dalam ovum hamster dan 14,6 persen (n = 146) untuk penetrasi ke dalam ovum kucing. Persentase penetrasi ke dalam ovum hamster sebesar 5 persen (12 dari 238) dengan menggunakan spermatozoa dari epididimis dan sebesar 28 persen (67 dari 240) dengan menggunakan spermatozoa dari epididimis yang telah dibekukan semalam (Goodrowe dan Hay, 1993). Spermatozoa kucing dari duktus deferens dapat membuahi atau terjadi fertilisasi ovum kucing secara in vitro tanpa kapasitasi in vivo (Bowen, 1977).

 

Pengenceran dan Pembekuan Semen

Semen beku

    Kebutingan terjadi pada kucing domestik yang diinseminasi dengan semen beku yang telah dithawing untuk pertama kali dilaporkan pada tahun 1976, dengan kebuntingan yaitu satu anak kucing, diketahui setelah 49 hari diinseminasi intravagina (Platz et al, 1976)
    Prosedur pembekuan semen kucing yang pertama kali berupa pencampuran ejakulat dengan larutan 0,9% NaCl steril sebanyak 200 μl (untuk meningkatkan total volume) dan 200 μl untuk pengencer pada suhu kamar (22o-23oC). Pengencer dibuat dengan mencampurkan 20% kuning telur (v/v), 11% laktosa (w/v), dan 4% glycerin (v/v) dalam aiar yang diionisasi, dan diberi tambahan 1000 μg streptomycin sulfat per milimeter, dan 1000 IU penicillin G potassium per millimeter. Sampel ini dihitung dan dikurangi 400 μl dari total untuk penambahan ejakulat tersebut. Jika volume ejakulat lebih dari 200 μl, maka penambahan volume pengencer harus memiliki rasio dengan volume semen 1:1 (v/v). Sampel ini kemudian didiamkan pada suhu 5oC selama 20 menit setelah 200 μl ejakulat tersebut telah diberi tambahan pengencer suhu 5oC dan sampel ini dapat didiamkan dengan tambahan waktu 10 menit. Sampel dibekukan dengan meneteskan 1 tetes semen yang telah diencerkan dengan pipet Pasteur ke dalam balok CO2 padat (dry ice) 3x4 mm. Pellet beku kemudian akan disimpan dalam container berisi nitrogen cair dan dimana sebelumnya dilakukan perlabelan dalam vial 5-8 ml Nalgene (Platz et al, 1978)
    Semen kucing yang telah beku berupa pellet dalam dry ice dan telah disimpan dalam nitrogen cair pada suhu -196oC, diencerkan 1:3 dengan media glycerol lactose-kuning telur pada suhu 5oC dalam 10 menit. Semen yang disimpan dalam 49 dan 81 hari kemudian dithawing dalam 3,2% Na sitrat dengan volume yang sama, masing-masing akan menghasilkan 13 dan 17 persen tingkat fertilisasi setelah diinseminasi intravaginal pada kucing betina yang estrus (Sojka dan Lennings, 1973).
    Semen kucing juga dibekukan dalam straw, menggunakan pengencer berupa campuran buffer tes-tris (Test) kuning telur (20 %) (volume pengencer tidak spesifik). Sampel yang didinginkan pada suhu 4oC lebih dari 2-3 hari diberi tambahan gliserol 4oC sebanyak 5% dari konsentrasi akhir setelah sampel semen mencapai suhu 4oC. Sampel yang telah diencerkan kemudian dimasukkan ke dalam 0,25 ml straw dan didinginkan pada suhu 10oC atau minimal sampai suhu   -80oC, kemudian dimasukkan ke dalam kontainer berisi nitrogen cair (-196oC). Penelitian menunjukkan bahwa motilitas post thawing, persentase hidup spermatozoa dan integritas akrosom lebih baik pada pembekuan dalam straw dibandingkan dalam bentuk pellet (Pope et al, 1991).

   
Pembekuan semen yang telah diencerkan

    Konsepsi dengan semen kucing yang disimpan pada suhu 4oC selama 3 hari setelah diencerkan dengan 3% buffer sitrat – kuning telur dengan volume yang sama pada suhu 37oC telah dilaporkan. Sampel yang telah diencerkan dthawing dalam air 37 oC sebanyak 800 ml di beaker glass setelah disimpan dalam kulkas pada suhu 4 oC selama lebih dari 4-5 jam; sampel yang telah disimpan  selama 0, 1, 2 dan 3 hari menghasilkan persentase fertilisasi ovum kucing betina masing-masing sebesar 100, 67, 30 dan 23 persen (Sojka et al, 1970; Sojka et al, 1980).
    Penyimpanan spermatozoa kucing yang singkat (short term) pada suhu      4 oC telah diteliti untuk sampel yang diencerkan dengan Test yolk buffer sebagai pengencer untuk pembekuan semen, kemudian disimpan pada suhu 4 oC selama 24 jam (Glover dan Watson, 1985). Spermatozoa dapat kembali motil dari sampel semen kucing yang disimpan lebih dari 1 minggu yang menggunakan pengencer berupa N-tris (NES) buffer sebanyak 325 mM dan dengan 2 sampai 20% (v/v) kuning telur, namun terjadi penurunan yang signifikan pada persentase spermatozoa yang motil progresif. Hal ini menunjukkan bahwa spermatozoa kucing lebih mudah terkena cold shock daripada hewan lainnya (Glover dan Watson, 1985; Glover dan Watson, 1987).  


Random Content

Koas Login

Bottom Tab Content
eXTReMe Tracker